Selasa, 07 November 2017

Adab Tilawah (Membaca) Al-Quran




(Gambar Khotmil Quran Yayasan Islam AL-Anis)

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka baginya sepuluh kebaikan. Sedangkan satu kebaikan itu dilipat gandakan hingga sepuluh kali. saya tidak mengatakan alif laam mim itu satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, lam itu satu huruf dan mim juga satu huruf," (HR. Tirmidzi). Itu baru satu kata, lalu bagaimana kalau kita membaca satu juz atau lebih setiap malamnya? 

Tentu sudah tak terhitung berapa banyak pahala yang mengalir ke catatan amal kita tanpa kita sadari. Belum lagi kalau saat itu bertepatan dengan malam lailatul qadar. Berarti apa yang kita lakukan pada saat itu sama dengan pahala yang kita peroleh ketika membaca Al-Qur'an selama 83 tahun lebih tanpa henti. Subhanallah. Dan, untuk menyambut datangnya bulan ini, seyogyanya kita memahami adab tilawah, adab membaca Al-Qur'an. Sehingga apa yang kita rencanakan sejak jauh-jauh hari itu bisa tercapai dengan baik.

1 . Membaca dalam keadaan suci dari hadats, menghadap qiblat dan duduk dengan baik

Al-Qur'an bukanlah seperti buku biasa, atau seperti surat kabar harian yang boleh dibaca di mana saja serta dalam keadaan apa pun. Tidak. Al-Qur'an jelas sangat berbeda dengan semua itu. Al-Qur'an merupakan kitab suci yang menjadi sumber segala sumber hukum. Kitab suci yang terbebas dari perubahan hingga akhir zaman. Sehingga sudah sangat wajar bila kita harus memperlakukannya dengan khusus pula. Didahului dengan berwudlu, sebagai wujud pensucian diri. Lalu dilanjutkan dengan mengambil dan membawanya dengan tangan kanan, sebagai lam bang kebaikan, selanjutnya duduk dengan tenang dan siap untuk membacanya. Demikianlah yang harus dilakukan sebelum membacanya, sehingga Allah berfirman: "Tidak' menyentuhnya kecuali hambahamba yang disucikan". (Al-Waqiah: 79).

2. Membaca dengan tartil (perlahan-lahan)

Seringkali kita mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan sangat cepat dan terburu-buru. Ia seperti orang yang sedang dikejar hantu. Atau bisa jadi kita juga terpancing untuk membacanya dengan cepat, agar lebih cepat selesai. Padahal membaca dengan cara seperti ini tentu sangat sulit menempatkan huruf pada makhraj yang benar. Terlebih lagi, pandangan mata kita kurang bisa terfokus dengan baik. Akibatnya, kesalahan demi kesalahan akan terus terulang tanpa kita sadari. Kata "Rahiim" yang berarti "Maha Penyayang" misalnya.

Bila mata kita melihat dengan cepat, bisa jadi lidah kita akan keseleo dan akhirnya membaca "Rajiim" yang bermakna "Yang dimurkai", ini kelihatannya sepele, tetapi sebenarnya suatu kesalahan yang sangat fatal karena arti kedua kalimat itu sangat bertolak belakang. Bayangkan, bila kesalahan itu terjadi pada lafadz basmalah, tentu hal ini sangat fatal. Karena itu, Allah berfirman: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Muzammil: 4).

3. Membacanya dengan khusyu.

Tampakkan kesedihan bila membaca ayat yang menunjukkan ancaman dan siksa. Dan, berseriserilah bila mendengar berita gembira. Itulah nasehat Rasulullah kepada sahabat dan seluruh umat Islam. Sehingga tidak jarang kita menemukan ulama yang menangis tersedu-sedu. "Bacalah AIQur'an dan menangislah karenanya. Bila kalian tidak bisa menangis maka berpura-puralah untuk menangis." (HR. Bukhari dan Muslim). Berpura-pura menangis ini dilakukan ketika membaca Al-Quran send irian. Sedang tidak bersama orang lain. Agar keikhlasan tetap terjaga. Lihatlah! betapa tubuh seorang sahabat yang bernama Uwais al-Qarni menggigil hebat, lalu terjatuh dan pingsan cukup lama setelah membaca membaca firman Allah: "Ha mim. Oemi kitab yang menjelaskan, sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu motam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." Dia membacanya hingga "Kecuali orang-orang yang diberi rahmat Allah. Sesungguhnya Oialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. " (QS. Ad-Dukhan: 1-100).

4. Membacanya dengan suara yang enak didengar.
Bersyukur kepada Allah, bila dikaruniai suara yang merdu dan enak didengar adalah suatu keharusan. Caranya, dengan memanfaatkan kemerduan suara itu untuk membaca Al-Qur'an. Sehingga orang yang mendengar keindahan suara kita semakin tertarik dan ingin belajar membaca Al-Qur'an. Rasulullah SAW bersabda, "Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian." (HR. Bukhari). Tapi bila merasa khawatir akan ria atau sumah, maka bacalah Al-Qur'an dengan suara yang cukup didengar sendiri. "Orang yang membaca Al-Qur 'an dengan keras bagaikan orang yang bershadaqah dengan terang-terangan." (HR. Turmudzi).

5. Membaca dengan tadabur disertai dengan kehadiran hati untuk memahami arti dan rahasianya.
Hal ini sudah sangat jelas dan tidak perlu dibahas lebih jauh bahwaAl-Qur'an bukanlah kitab biasa yang hanya dibaca sambil lalu, tapi ia adalah pedoman hidup yang harus dihayati, bukan sekadar dibaca tanpa tahu makna dan maksudnya. Allah berfirman: 'Apakah mereka tidak merenungkan AI Qur'an." (QS. An-Nisa: 82) Sangat banyak yang bisa direnungkan. Bahkan diri kita juga menjadi obyek perenungan. Misalnya, bersyukurlah karena hidung kita tidak menghadap ke atas, karena kalau itu yang terjadi tentu air akan akan masuk ke dalam hidung setiap kali kita kehujanan atau mandi. Ini adalah contoh yang simpel dari sekian banyak obyek perenungan lainnya "Don (juga) pada dirimu sendiri Maka apakah kamu tiada memperhatikan?" (Adz-Dzariyat: 21)

6. Bukan menjadi orang yang tidak menghiraukan apa yang dibaca.
Bersikap apatis dan acuh terhadap apa yang dibaca, tentu bukan sikap yang terpuji. Karena bisa jadi, saat itu kita melaknat diri sendiri. Memang, demikianlah akibatnya bila tingkah laku kita bertentangan dengan apa yang dibaca. "lngatlah! Kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang dzalim." (QS. Huud: 18) Dengan demikian tidak ada pilihan lain, belajar bahasa arab merupakan solusi terbaik sehingga kita bisa memahami arti sekaligus penafsiran ulama. Atau setidak-tidaknya merujuk kembali kepada tejemah Al-Qur'an. Di dalam Taurat disebutkan, "Mengapa kamu tidak malu kepada-Ku? Ketika kamu mendapat kiriman surat dari seorang teman, kamu berhenti sejenak dan menyempatkan diri membacanya, huruf demi huruf. Agar kamu bisa memahaminya dengan baik dan tidak ada yang terlewatkan. Dan, inilah kitab yang Aku turunkan kepadamu. Perhatikan! Bagaimana Aku menjelaskan setiap permasalahan dengan terperinci. Dan perhatikan! betapa sering Aku mengulanginya sehingga kamu bisa merenungkannya. Tapi lihatlah! Apa yang kamu lakukan, kamu pun berpaling darinya. Sehingga Aku menjadi kurang bermakna bagimu dibandingkan dengan temanmu.

Wahai hamba-Ku! Bila datang seorang teman mengunjungimu, kamu pun menyambutnya dengan hangat. Kamu memperhatikan dan mendengarkannya dengan seksama. Bila ada orang yang mengganggu pembicaraanmu, kamu pun segera menyuruhnya untuk diam. Dan, inilah sekarangAku datang kepadamu, ingin berbicara denganmu. Tapi apa yang terjadi? Kamu pun berpaling dariku. Mengapa kamu menjadikan Aku lebih tidak bermakna dari seorang temanmu?" Demikianlah beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membaca Al-Qur'an, sehingga kita "" tidak membacanya semau kita tanpa memperhatikan situasi dan kondisi. Ini semua agar tilawah kita lebih bermakna dan benar benar beda. (Abu Kafaa)

Student Holiday Camp 2016/2017


Student Holiday Camp Di Lereng Merapi
 

Napak Tilas Erupsi Merapi


Bunker Kaliadem

Kamis, 19 Januari 2017

Sang Maha Guru

Kang Santri

        Sahabat Al-Anis tercinta, pada setiap bulan Rabi’ul Awwal, kita ngadain acara Maulid Nabi Muhammad saw nah, yang jadi pertanyaan kita nih: sudahkah kita menjadikan Rasulullah saw. Sebagai teladan dalam kehidupan kita? Jangan-jangan, kita cuma ngaku-ngaku aja sebagai umat beliau. Karena apa? Karena dalam kehidupan, kita sangat jauh banget dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw, Seperti dalam sopan-santun, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menghargai ortu dsb. Jadi, kalo kita dalam kehidupan sehari-hari ngelakuin perbuatan sesuka kita tanpa didasarkan kepada Islam, itu artinya sama aja cuma ngaku-ngaku doang percaya sama Allah dan RasulNya. Iya kan? 

        Nah, supaya kita bisa meneladani Rasulullah saw, Untuk itu tentunya kita harus mengenal siapa Rasulullah saw. Mulai dari sejarah hidupnya, sifat-sifatnya, akhlaknya, dst. Pepatah dari negeri seberang berkata “You Can't Love A Person If You Don't Know “ (tak kenal maka tak sayang) so yuk kita mengenal kembali rasul kita !

Sejarah kelahirannya

         Nabi Muhammad saw dilahirkan di Makkah, kira-kira 200 M dari Masjidil Haram, pada senin menjelang terbitnya fajar 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M. Ibunya bernama Aminah Az- Zuriyah binti Wahab (Aminah binti Wahab) dan ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muththalib. Nabi Muhammad saw adalah figure pilihan yang lahir dari dinasti pilihan. Beliau lahir dari pernikahan yang sah, bukan dari perzinaan yang nista. Leluhurnya adalah orang-orang yang mulia dari Abdullah sampai nabi Adam As.

          Diriwayatkan bahwa ada beberapa bukti pendukung kerasulan beliau, bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, dan padamnya api yang biasa disembah orang-orang majusi selama lebih dari 1000 tahun yang sebelumnya tidak pernah padam, serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah setelah gereja-gereja itu ambles ke tanah.  Banyak berhala disekitar ka’bah yang jatuh ambruk dari tempatnya berdiri. 
         Demikian sejarah singkat kelahiran Manusia paling mulia Rasululah saw. Beliau tumbuh sebagai seorang yang taat dalam beragama dan menyembah Allah. Beliau membenci berhala-berhala dan segala hal yang terlarang (haram). Beliau juga terkenal memiliki akhlak yang mulia yang sangatlah pantas untuk kita teladani.

Meneladani kepribadiannya
          Sahabat Al-Anis, pernahkah kita berlaku lemah-lembut dan santun saat bertutur kata dengan sahabat-sahabat kita? Baik dengan yang usianya di atas maupun di bawah kita? Jika sudah dan memang biasa melakukannya, alhamdulillah. Pertahankan dan terus kembangkan. Karena Rasulullah saw. pun termasuk yang berhati lembut dan santun.
          Imam ath-Tahbrani dalam Tarikh-nya menuliskan tentang kepribadian Rasulullah saw.: "Selama beliau tetap sebagai Rasulullah, maka tidak boleh tidak, beliau harus menjadi orang yang paling lembut dan berlapang dada di antara manusia, paling halus budi pekertinya, paling baik akhlaknya dan paling indah pergaulannya. Rasulullah saw. menahan amarah, memaafkan, dan memohonkan ampunan atas orang-orang yang tergelincir. Beliau saw. mengalahkan hak-hak dirinya selama bukan hak Allah. Beliau saw. memaafkan orang yang mendzaliminya, mengusirnya dari tanah airnya, menyakitinya, mencai makinya dan bahkan yang memeranginya; karenanya beliau berkata kepada mereka pada hari Penaklukan Mekkah, "Pergilah kalian, karena kalian adalah orang-orang bebas." (ath-Thabrani dalam Tarikh-nya 2/161)
           Sahabat Al-Anis, untuk membiasakan sikap lemah lembut, kita mulai belajar dari sekarang bagaimana menghormati teman-teman kita. Berkata yang baik dan sopan adalah sikap terpuji. Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah adalah Mahalembut, maka ia mencintai kelembutan, dan Dia memberikan kelembutan apa yang tidak Ia berikan kepada sifat kasar" (HR Bukhari-Muslim dari Aisyah ra)
       Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika orang-orang Yahudi masuk menemui beliau dengan mengatakan, "Kebinasaan semoga menimpamu". Maka Aisyah ra yang mengetahui hal itu menjawab, "Semoga kebinasaan dan laknat untuk kalian." (Mendengar itu) Nabi saw. bersabda: "Wahai Aisyah, apa itu? Sesungguhnya Allah tidak menyukai ucapan jorok dan keji; tapi bila kamu ingin menjawab ucapan mereka, katakan, "Wa'alaikum (dan atas kamu)" (HR Bukhari-Muslim dari Aisyah ra)
          Hmm.. apa yang dilakukan Rasulullah saw. dalam hadis di atas sungguh sangat cantik. Tidak langsung menyerang tapi hanya membalikkan. Yang intinya sebenarnya menyerang juga. Tapi supaya tidak menimbulkan kesan perlawanan frontal, akhirnya Rasulullah saw. mengatakan demikian.
        Dalam hidup bertetangga Rasulullah saw. menasihati kita sebagai umatnya bahwa kita harus saling menghormati dengan tetangga kita. Meski pada kenyataannya kita-kita berantem mulu ama tetangga, atau ada yang malah doyan nyari musuh. Nggak suka kalo tetangga tuh dapet kebahagiaan. Walah?
         Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang hak tetangga, dia berkata: "Tolonglah ia ketika minta tolong kepadamu. Berilah ia pinjaman ketika meminjam. Kunjungilah dia ketika sakit. Ucapkan selamat bila memperoleh kebaikan (misal: rizki, anak, kepulihan). Sampaikan takziah (duka cita) bila mendapat musibah (kematian), antarkan jenazahnya bila meninggal. Jangan kamu tinggikan bangunanmu sehingga menghalagi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya dan janganlah kamu sakiti tetanggamu dengan bau masakanmu kecuali engkau berikan sebagian kepadanya (misal: kuah/sop daging). Jika engkau membeli buah-buahan berikanlah sebagian. Jika engkau tidak (mau) memberinya, masukkan buah-buahan itu ke dalam rumahmu secara sumbunyi-sumbunyi. Janganlah anakmu keluar membawa buah yang membuat anaknya kecewa." (HR Thabrani. Lihat: At Targhib wat Tarhib, jilid 3 hlm. 357)
        Hmm.. kalo kita sama teman di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal kita akur dan menjalin kebersamaan dan saling menolong, kayaknya asyik banget. Kita jadi nggak punya musuh. Sekaligus berarti kita insya Allah udah meneladani Rasulullah saw. dalam hal kepribadiannya yang agung dan berakhlak mulia.
Sahabat Al-Anis, masih banyak kemuliaan pribadi Rasulullah saw. Kayaknya nggak mungkin ditulis semua di sini. Nggak cukup jumlah halaman yang disediakan buletin ini. Ini sekadar contoh aja dari sekian banyak keagungan akhlak Rasulullah saw. So, dengan belajar lebih banyak tentang Islam, insya Allah kita bakalan lebih banyak tahu lagi tentang Islam dan tentunya tentang sosok Rasulullah saw. yang menjadi teladan kita.
Rasulullah Sang Maha Guru
         Untuk para pendidik dan orang tua, Rasulullah sangatlah cocok dijadikan panutan dalam pendidikan karena beliaulah sang pendidik sejati. Menurut Al Qur’an, beliau mempunyai tugas: syahida, mubasysyira, nadzira, da ‘ilaya allah, siraja muniira (menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah, lampu penerang. Q.S. Al Ahzab; 45-46).
        Sebagai pendidik beliau telah berhasil membina masyarakat dari masyarakat yang paling biadab menjadi masyarakat yang paling beradab, dari masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang terdidik. Kunci keberhasilan pendidikan yang beliau lakukan adalah: konsep ajaran yang beliau sampaikan adalah ajaran yang benar dan tepat, kesungguhan dan keikhlasan beliau dalam melaksanakan tugas, kemampuan dan keterampilan beliau dalam melaksanakannya, akhlak dan pribadi beliau yang baik dan mulia. sifat utama beliau adalah shidhhiq, amanah, tabligh dan fathanah yang kemudian dirinci dalam beberapa ayat Al Qur’an seperti “merasa berat atas penderitaan orang lain, sungguh-sungguh mengajak orang lain untuk menjadi baik, sangat kasih dan sayang” (Q.S. At Taubah: 128). Beliau tidak pernah bertindak kasar, tetapi selalu pemaaf memintakan ampunan, siap bermusyawarah, tawakal dan tidak pernah berhianat. (Q.S. Ali Imran: 159-161). Beliau adalah uswah hasanah (teladan yang baik), rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang kepada segenap alam), selalu memulai segala perintah dan prilaku baik dengan dirinya sendiri dan menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadar kemampuan orang yamg dididik. Itulah sebagian prinsip pendidikan yang beliau terapkan.
       Untuk menjadi pendidik yang berhasil, beliau telah mempersiapkan dirinya sedemikian rupa sejak sebelum diangkat sebagai Rasul. Beberapa pelajaran penting yang dapat dijadikan teladan antara lain, pra kerasulan: memiliki sifat dapat dipercaya (alamin), terlatih dalam suasana keprihatinan dan penuh tantangan, kesiapan diri untuk mandiri, tidak tergantung kepada orang lain dan kondisi rumah tangga yang sangat menunjang pelaksanaan tugas. Setelah menjadi Rasul: beliau bisa membaca dan memahami kondisi medan perjuangan dan menilainya dengan pisau analisis yang baik (Q.S. Al Alaq: 1-5), mantap, cinta dan meyakini tugas yang diemban (Q.S. Al Qalam: 1-16), membina diri dengan salat malam dan membaca Al Qur’an di setiap penghujung malam, dzikir dan tekun beribadah, sabar menerima reaksi dan tantangan, hijrah saat diperlukan (Q.S. Al Muzammil: 1-10). Mendidik dengan ikhlas, siap membersihkan diri dari dosa, menjauhi perbuatan yang tak terpuji, tidak terlampau banyak mengharapkan pemberian manusia, bersikap sabar untuk memperoleh hasil yang diharapkan (Q.S. Al Mudatstsir: 1-7).
        Ada beberapa petunjuk yang beliau ajarkan: lakukan pendidikan dengan hikmah, kebijaksanaan, nasihat dan diskusi yang baik (Q.S. An Nahl: 125), berpaling dari ajaran yang salah, memberii pendidikan kepada mereka yang salah dengan kata-kata yang benar (Q.S. An Nisa: 63), konsekuen dalam pendirian yang benar, tidak mengikuti hawa nafsu, adil dan menunjukkan identitas Muslim (Q.S. Asy Syu’ara: 15, Yusuf: 108), tidak merasa rendah diri (Q.S. Al Furqan: 63), tidak putus asa (Q.S. Yusuf: 87), keberhasilan proses pendidikan ditentukan oleh Allah (Q.S. Al Anfal: 63).
          Beberapa pusat kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh beliau ialah: rumah tempat tinggal, tempat khusus (baitul arqam), masjid, suffah/bangunan di sekitar masjid.
          Dengan menelaah beberapa prinsip keteladanan Rasulullah sebagai pendidik teladan, ada beberapa rumusan tentang tugas, peranan dan fungsi guru di lembaga Islam seperti SDIT Al-Anis tercinta ini. bahwa sekolah-sekolah yang beridentitas Islam seperti sekolah kita, mempunyai tugas dan peranan yang lebih dari tugas dan peranan lembaga-lembaga pendidikan yang tidak beridentitas Islam, maka setiap orang harus mempertaruhkan nama Islam dalam segala aktivitasnya.
           Oleh karena itulah segenap guru di lembaga pendidikan Islam mempunyai tugas dan peranan sebagai berikut: 
  1. Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu kepada anak didik tetapi juga harus mamapu mentransfer iman dan akidah Islam.
  2. Guru tidak hanya penyampai ilmu tetapi juga harus menjadi pengamal pertama dari ilmu yang diajarkannya.
  3. Guru tidak hanya wajib melaksanakan pendidikan di kelas sesuai jadwal yang telah ditetapkan, tapi juga harus setiap saat bisa melayani anak didik.
  4. Guru tidak hanya menjadi pendidik di ruang kelas, tetapi juga menjadi pendidik di setiap tempat di mana pun ia berada.
  5. Guru tidak hanya siap menjawab pengetahuan sesuai dengan bidangnya, tetapi juga harus mempu menjawab pertanyaan anak didik tentang Islam.
  6. Guru tidak hanya dapat dipercaya dalam moral dan akhlaknya; ia tidak hanya harus sukses dalam melaksanakan tugas pendidikan di sekitar lembaga pendidikan, tatapi juga harus mampu melakukan hal yang sama di rumah dan di tengah masyarakat.
  7. Guru tidak hanya harus mempertangungjawabkan segala langkahnya kepada lembaga, tetapi juga harus mempertanggungjawabkannya (secara moral) kepada umat dan kepada Allah swt.
  8. Guru tidak hanya menjadikan dirinya sebagai teladan bagi murid-muridnya namun juga harus bisa menjadi teladan dimanapun dia berada dari segi tingkah laku, cara berpakaian dll.
  9. Selain dirinya Guru juga harus bisa menjadikan keluarganya, rekan-rekanya, murid-muridnya menjadi teladan bagi orang lain.
        Untuk terwujudnya hal-hal di atas, langkah-langkah yang dicontohkan Rasulullah sebagai pendidik teladan dan pendidik yang paling sukses penting dijadikan perhatian oleh semua pihak, baik guru yang bersangkutan, pimpinan maupun masyarakat secara keseluruhan.


 
Top